EFEKTIFITAS
PENGGUNAAN METODE ROLLE PLAYING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI AL-QUR’AN DAN HADITS
SISWA DI MA FUTUHIYYAH
(Penelitian Di MA Futuhiyyah Demak – Mranggen)
PENDAHULUAN
- Latar Belakang
Pendidikan
merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa
suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru
sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya
interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran.
Salah
satu problematika dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam yaitu pada aspek
metodologi pembelajaran, guru masih bersifat normatif, teoritis dankognitif
yang mana kurang mampu mengaitkan serta berinteraksi dengan materi-materi
pelajaran yang lainnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Furchan(1993)
menjelaskan bahwa "Penggunaan metode pembelajaran PAI di sekolah kebanyakan masih
menggunakan cara-cara pembelajaran tradisional, yaitu ceramah monoton dan
statis a-kontekstual, cenderung normatif, monolitik, lepas dari sejarah, dan
semakin akademis[1]."
Proses
belajar mengajar yang diselenggarakan di sekolah sebagai pusat pendidikan formal
sebagai upaya untuk mengarahkan perubahan pada diri individu secara
terencana baik dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik dalam interaksi belajar
sangat dipengaruhi oleh beberapa komponen antara lain adalah pendidik, peserta
didik, materi pelajaran, metode pembelajaran, saran prasarana, lingkungan, dan
beberapa komponen lain yang mendukung dalam proses pembelajaran serta berbagai
usaha yang harus dilakukan untuk menumbuhkan daya tarik dan semangat
belajar bagi peserta didik.
Perkembangan
mental peserta didik di sekolah antara lain, meliputi kemampuan untuk bekerja
secara abstraksi menuju konseptual. Implikasinya pada pembelajaran, harus
memberikan pengalaman yang bervariasi dengan metode yang efektif dan
bervariasi.
Proses
pembelajaran juga harus memperhatikan minat dan kemampuan peserta didik. Dalam proses pendidikan
Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk pencapaian tujuan
karena ia menjadi sarana dalam menyampaikan
materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum. Tanpa metode, suatu materi pelajaran
tidak dapat terproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar
mengajar menuju tujuan pendidikan yang diharapkan.
Penggunaan
metode yang tepat akan sangat menentukan efektifitas danefisiensi pembelajaran.
Pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit ceramah dan metode-metode lain yang
berpusat pada guru, serta lebih menekankan pada interaksi dengan
peserta didik. Penggunaan metode yang bervariasi akan sangat membantu peserta didik
dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pengalaman belajar di sekolah
harus fleksibel dan tidak kaku, serta perlu menekankan pada kreativitas, rasa ingin
tahu, bimbingan dan pengarahan ke arah kedewasaan[2].
Metode
pendidikan yang tidak efektif akan menjadi penghambat kelancaran proses
belajar mengajar sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia. Oleh karena
itu, metode yang diterapkan seorang guru akan berdaya dan berhasil guna jika
mampu dipergunakan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam proses pendidikan
Islam, metode yang tepat guna apabila mengandung nilai-nilai intrinsik dan
ekstrinsik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat
dipergunakan untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam
tujuan pendidikan Islam. Antara metode, kurikulum, dan tujuan pendidikan Islam
mengandung relevansi dan operasional dalam proses pembelajaran.
Oleh
karena proses pendidikan mengandung makna internalisasi dan transformasi
nilai-nilai Islam ke dalam pribadi manusia didik sebagai upaya untuk membentuk pribadi
muslim yang beriman, bertakwa, dan berilmu pengetahuan. Sebagai salah satu
komponen operasional ilmu pengetahuan Islam, metode harus bersifat
mengarahkan materi pelajaran kepada tujuan pendidikan yang hendak dicapai melalui
proses tahap demi tahap, baik dalam kelembagaan formal maupun non formal. Dengan demikian
menurut ilmu pendidikan Islam, suatu metode yang baik harus memiliki karakter
dan relevansi yang senada dengan tujuan
pendidikan Islam. Ada tiga aspek nilai yang terkandung dalam tujuan
pendidikan Islam yang hendak direalisasikan melalui metode yang mengandung
karakter dan relevansi tersebut.Pertama, membentuk peserta didik menjadi hamba
Allah yang mengabdi kepada-Nya semata.Kedua,bernilai edukatif yang mengacu
kepada petunjuk Al-Qur'an. Ketiga, berkaitan dengan motivasi dan kedisiplinan
sesuai ajaran Al-Qur'an yang disebut pahala dan siksaan[3].
Berdasarkan pengamatan riil di lapangan, proses
pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan kreativitas siswa, Masih
banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton
dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku
dan didominasi oleh sang guru.
Dengan
demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi
pasif.
Pada
zaman sekarang ini, yang kita ketahui banyak sekali guru yang telah banyak
menyandang sebagai guru berpotensi, maka mereka pun di tuntut untuk menciptakan
model pembelajaran yang menyenangkan agar PBM di kelas tidak terlihat monoton.
Maka dari situlah akan terlihat hasil belajar siswa, dengan metode pembelajaran
yang di pakai seorang guru.
Dari metode yang dipakai maka di sesuaikan oleh
karakteristik siswa di kelas, agar tujuan yang di inginkan akan tercapai, dan
siswa pun dapat merasakan betapa tidak sulit nya dalam belajar di kelas.
Mata
pelajaran siswa pun berbagai macam pelajaran salah satu nya adalah
pendidikan agama islam salah satu nya adalah Al-qur’an dan Hadits.
Melihat fenomena yang terjadi di madrasah tersebut, maka
peneliti tertarik mengadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui sejauh
mana kemampuan siswa dalam menulis huruf hiaiyah dengan judul,: “EFEKTIFITAS
PENGGUNAAN METODE ROLLE PLAYING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI AL-QUR’AN
DAN HADITS SISWA DI MA FUTUHIYYAH “
- Identifikasi Masalah
Dilihat
dari latar belakang masalah maka peneliti mengidentifikasi masalah
sebagai berikut :
1.
Penggunaan PENGGUNAAN
METODE ROLLE PLAYING.
2.
Pemahaman
materi Al-qur’an dan Hadits
di MA AL-FUTUHIYYAH.
3.
Efektifitas
penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi
Akidah-Akhlak di MA
FUTUHIYYAH.
- Fokus penelitian
Dengan menggunakan Identifikasi Masalah Diatas , sehubung
dengan masalah yang terkait dengan Efektifitas penggunaan metode Rolle Playing
dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH“,
maka dengan ini peneliti memfokuskan sebagai berikut :
1.
Penggunaan
metode Rolle Playing
2.
Pemahaman
materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH
- Rumusan Masalah
Dilihat
dari Fokus Masalah di atas, Peneliti merumuskan masalah sebagai berikut :
1.
Bagaimana
penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits
di MA FUTUHIYYAH ?
2.
Bagaimana cara meningkatkan pemahaman
materi Al-qur’an dan Hadits
di MA FUTUHIYYAH ?
3.
Bagaimana efektifitas
penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits
di MA FUTUHIYYAH ?
- Tujuan Penelitian
Berdasarkan
Perumusan Masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan :
Ø untuk mengetahui cara Efektifitas
penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH
Ø untuk meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH
- Manfaat penelitian
Manfaat
penelitian yang di harapkan sebagai berikut :
ü Secara teoritis
o
Penelitian
ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dalam Pendidikan Agama
Islam, khususnya tentang meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits
di MA FUTUHIYYAH
ü Secara praktis
Manfaat
penelitian yang di harapkan sebagai berikut :
v Bagi peserta didik MA FUTUHIYYAH
- Kompetensi peserta didik dalam mata pelajaran Al-qur’an dan Hadits dapat dicapai.
- Hasil belajar peserta didik di MA FUTUHIYYAH dalam pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH.
- Penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH.
v Bagi Guru MA FUTUHIYYAH
A. Adanya inovasi dalam penggunaan metode
Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH
B. Untuk memudahkan Guru PAI dalam
penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits
di MA FUTUHIYYAH.
C. Untuk mencapai satu tujuan yang di
inginkan sesama guru PAI dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH
- KAJIAN TEORITIS
Ø Penegrtian
Metode Role Playing
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan
bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa.
Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya
sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih
dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan.
Ø Tujuan
Pembelajaran Role Playing
Menurut Zuhaerini (1983: 56), model ini digunakan
apabila pelajaran dimaksudkan untuk:
a) Menerangkan suatu
peristiwa yang di dalamnya menyangkut orang banyak, dan berdasarkan
pertimbangan didaktik lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan, karena
akan lebih jelas dan dapat dihayati oleh anak;
b) Melatih anak-anak agar
mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah sosial-psikologis; dan
c) Melatih anak-anak agar
mereka dapat bergaul dan memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain
beserta masalahnya.
Ø Langkah-Langkah
Model Pembelajaran Role Playing
Langkah-langkah model pembelajaran ini adalah: guru
menyiapkan scenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari
skenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk
siswa untuk melakonkan skenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa
membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok,
bimbingan penyimpulan dan refleksi.
Ø Pengertian
Dan Ciri-Ciri Pembelajaran Role Playing
Bermain peran pada prinsipnya merupakan pembelajaran
untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu
‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai
bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai
keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan
saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Pembelajaran
ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan
bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran
Role playing adalah sejenis permainan gerak yang
didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill
Hadfield, 1986). Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di
luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas, dengan
menggunakan bahasa Inggris. Selain itu, role Playing sering kali dimaksudkan
sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya
seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu,
2000).
Dalam role playing murid diperlakukan sebagai subyek
pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan
menjawab dalam bahasa Inggris) bersama teman-temannya pada situasi tertentu.
Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid
(Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan
Menengah, 2002). Lebih lanjut prinsip pembelajaran PKn standar kompetensi
memahami kebebasan berorganisasi, dan menghargai keputusan bersama, murid akan
lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam
bermusyawarah, melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima
kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif
berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono,
2001). Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya
aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.
Sementara itu, sesuai dengan pengalaman penelitian
sejenis yang telah dilakukan, manfaat yang dapat diambil dari role playing
adalah: Pertama, role playing dapat memberikan semacam hidden practise, dimana
murid tanpa sadar menggunakan ungkapan-ungkapan terhadap materi yang telah dan
sedang mereka pelajari. Kedua, role playing melibatkan jumlah murid yang cukup
banyak, cocok untuk kelas besar. Ketiga, role playing dapat memberikan kepada
murid kesenangan karena role playing pada dasarnya adalah permainan. Dengan
bermain murid akan merasa senang karena bermain adalah dunia siswa. Masuklah ke
dunia siswa, sambil kita antarkan dunia kita (Bobby DePorter, 2000: 12)
Ø Kelebihan
dan kekurangan role playing
ü Kelebihan Metode Role Playing
Kelebihan metode Role Playing melibatkan seluruh
siswa berpartisipasi, mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam
bekerja sama. Siswa juga dapat belajar menggunakan bahasa dengan baik dan
benar. Selain itu, kelebihan metode ini adalah, sebagai berikut:
1. Siswa bebas mengambil keputusan dan
berekspresi secara utuh.
2. Permainan merupakan penemuan yang mudah
dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3. Guru dapat mengevaluasi pengalaman siswa
melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
4. Dapat berkesan dengan kuat dan tahan
lama dalam ingatan siswa. Disamping merupakan pengaman yang menyenangkan yang
saling untuk dilupakan
5. Sangat menarik bagi siswa, sehingga
memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias
6. Membangkitkan gairah dan semangat
optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan
kesetiakawanan sosial yang tinggi
7. Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung
dengan mudah, dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya
dengan penghayatan siswa sendiri.
8. Dimungkinkan dapat meningkatkan
kemampuan profesional siswa, dan dapat menumbuhkan / membuka kesempatan bagi
lapangan kerja.
ü Kelemahan Metode Role Playing
Hakekatnya sebuah ilmu yang tercipca oleh manusia tidak
ada yang sempurna,semua ilmu ada kelebihan dan kekurangan.Jika kita melihat
metode Role Playing dalam dalam cakupan cara dalam prooses mengajar dan belajar
dalam lingkup pendidikan tentunya selain kelebihan terdapat kelemahan. Kelemahan
metode role palying antara lain :
- Metode bermain peranan memelrukan waktu yang relatif panjang/banyak.
- Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun murid.Dan ini tidak semua guru memilikinya.
- Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerlukan suatu adegan tertentu.
- Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pengajaran tidak tercapai.
- Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.
- METODOLOGI PENELITIAN
v Metodologi Penelitian
1) Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MA FUTUHIYYAH
2) Waktu penelitian
Waktu
penelitian ini dilakukan di MA
FUTUHIYYAH selama 3 Bulan terhitung dari bulan November sampai
januari 2016
v Metode penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam menyususn
proposal ini yaitu dengan menggunakan metode kualitatif naturalistik,yaitu
metode yang menghasilkan data deskriftif.data tersebut di dapatkan dari naskah,
wawancara, catatan lapangan , alat perekam dan dokumen resmi lainnya.
v Data dan Sumber Data
1) Data
Data penelitian ini adalah kualitatif data berwujud
kata-kata dan tindakan yang dikumpulkan dalam beberapa cara :
a. Data berwujud kata-kata dikumpulkan
melalui wawancara.
b. Data berupa tindakan di peroleh dari
perilaku atau sikap sumber data.
c. Data yang tertulis dilihat dari
dokumen-dokumen.
2) Sumber Data
Dalam pengumpulan sumber data,penulis mengambil
keterangan dari beberapa responden yang ada di MA FUTUHIYYAH di
antaranya:
a. Guru Pendidikan Agama Islam
b. Siswa
v Teknik Pengumpulan Data
Dalam
hal ini penulis akan melakukan observasi dengan tiga siswa.
1) Prosedur Pengumpulan Data
Untuk mengetahui data-data dilapangan maka
dipergunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data, yaitu menggunakan
interview (wawancara), observasi, dan studi dokumentasi, lebih lanjut akan
diuraikan sebagai berikut :
a. Wawancara
wawancara merupakan salah satu pengumpulan data dengan
jalan tanyajawab sepihak yang dikerjakan berdasarkan tujuan penelitian, bisa
cara bertatap muka antara pewancara dan pihak yang diwawancara dan meperoleh
data berupa kata-kata. Yang di dapatlan dari
guru PAI dan siswa di MTS FUTUHIYYAH
b. Obsevasi
Observasi yaitu pengamatan melalui kegiatan
pemusatan perhatian terhadap suatu objek. Pengamatan yang penulis gunakan ini
adalah pengamatan adalah secara tersembunyi (covert) dan pengamatan
secara terbuka. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan suatu yang alamiah dan
data yang diperoleh valid serta realible. Pengamatan tersebut penulis lakukan
pada latar alamiah/paradigma alamiah (Natural Inquiry) dengan melalui
berbagai pertimbangan sesuai dengan situasi dan kondisi ; dimana, kapan, dan
kepada siapa penga,matan ini ditujukkan.Pengamatan yang dilakukan di kelas,
bersama guru PAI , siswa dan peneliti.
c. Studi Dokumentasi
Data dokumtasi adalah laporan tertulis dari suatu
peristiwa (proses kegiatan), yang isinya terdiri dari penjelasan dan pemikiran
terhadap peristiwa itu, serta dengan sengaja untuk menyimpan atau meneruskan
keterangan mengenai peristiwa tersebut.
Dilihat dari dokementasi metode Rolle Playing
dilaksanakan di kelas pada mata pelajaran Akidah-Akhlak.
v Teknik Analis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian
ini memakai tiga alur kegiatan yang terjadi secara kebersamaan, yaitu :
a. Reduksi data yaitu proses pemilihan,
pemusatan pada penyederhanaan, pengabsahan, dan transformasi data “kasar” yang
muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan. Reduksi data merupakan suatu
bentuk analisis merupakan suatu bentuk analisis yang menggolongkan,
mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data dengan cara
sedemikian rupa hingga ditarik kesimpulan data dan verivikasi.
b. Penyajian data yaitu sekumpulan informasi
tersusun yang memberikan kemungkinana adanya penarikan kesimpulan dan
pengambilan tindakan penyajian meliputi berbagai jenis matrik, jaringan dan
bagian semua dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu
bentuk yang terpadu dan mudah untuk diraih. Dengan demikian dapat dilihat apa
yang terjadi dan dapat menentukan apakah akan ditarik kessimpulan atau terus
melakukan analisis data tersebut.
c. Menarik kesimpulan yaitu merupakan alur
ketiga dalam menganalisis data,setelah data di proses dengan mereduksi dan
menyajikan data ,kemudian di tarik kesimpulannya.
d. Pengecekan keabsahan data
Untuk menguji keabsahan data-data penelitian
ini,digunakan beberapa cara antara lain:
a) Kepercayaan
(kredibilitas):pemeriksaan datanya dilakukan dengan perpanjangan keikutsretaan
sehingga tingkat kepercayaan pemuannya dapat di capai.
b) Keteralihan yaitu konsep
validitas itu menyatakan bahwa suatu penemuan dapat berlaku atau diterapkan
pada semua konteks pada populasi yang sama atas dasar penemuan yang di peroleh
pada sampel yangb secara representative memilki populasi itu.
c) Triangulasi yaitu tekhnik pemeriksaan keabsahan data yang
memenfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau
sebagai pembanding terhadap data itu.tekhnik triangulasi yang paling banyak di
gunakan ialah pemeriksan melalui sumber lain.
DAFTAR
PUSTAKA
Muhaimin, Nuansa
Baru Pendidikan Islam : (Mengurai Benang Kusut DuniaPendidikan), (Jakarta: Raja Grafindo, 2006) Hal 163
E.Mulyasa, Menjadi
Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, Cet-Ketujuh,
2008) Hal 107
Arifin, Ilmu
Pendidikan Islam:Tinjauan Teoretis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner ,
(Jakarta: PT Bumi Aksara, Cet-Pertama, 2003) Hal 144
[1] Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan
Islam : (Mengurai Benang Kusut DuniaPendidikan), (Jakarta: Raja
Grafindo, 2006) Hal 163
[2] E.Mulyasa, Menjadi
Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan,
(Bandung: PT Remaja Rosda Karya, Cet-Ketujuh, 2008) Hal 107
[3] Arifin, Ilmu
Pendidikan Islam:Tinjauan Teoretis dan Praktis Berdasarkan
Pendekatan Interdisipliner , (Jakarta: PT Bumi Aksara,
Cet-Pertama, 2003) Hal 144