Selasa, 17 Mei 2016

EFEKTIFITAS PENGGUNAAN METODE ROLLE PLAYING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI AL-QUR’AN DAN HADITS SISWA DI MA FUTUHIYYAH (Penelitian Di MA Futuhiyyah Demak – Mranggen)



EFEKTIFITAS PENGGUNAAN METODE ROLLE PLAYING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI AL-QUR’AN DAN HADITS SISWA DI MA FUTUHIYYAH (Penelitian Di MA Futuhiyyah Demak – Mranggen)

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang
Pendidikan merupakan suatu aspek kehidupan yang sangat mendasar bagi pembangunan bangsa suatu negara. Dalam penyelenggaraan pendidikan di sekolah yang melibatkan guru sebagai pendidik dan siswa sebagai peserta didik, diwujudkan dengan adanya interaksi belajar mengajar atau proses pembelajaran.
Salah satu problematika dalam pelaksanaan pendidikan agama Islam yaitu pada aspek metodologi pembelajaran, guru masih bersifat normatif, teoritis dankognitif yang mana kurang mampu mengaitkan serta berinteraksi dengan materi-materi pelajaran yang lainnya. Hal ini sesuai dengan hasil penelitian Furchan(1993) menjelaskan bahwa "Penggunaan metode pembelajaran PAI di sekolah kebanyakan masih menggunakan cara-cara pembelajaran tradisional, yaitu ceramah monoton dan statis a-kontekstual, cenderung normatif, monolitik, lepas dari sejarah, dan semakin akademis[1]."
Proses belajar mengajar yang diselenggarakan di sekolah sebagai pusat pendidikan formal sebagai upaya untuk mengarahkan perubahan pada diri individu secara terencana baik dari segi kognitif, afektif dan psikomotorik dalam interaksi belajar sangat dipengaruhi oleh beberapa komponen antara lain adalah pendidik, peserta didik, materi pelajaran, metode pembelajaran, saran prasarana, lingkungan, dan beberapa komponen lain yang mendukung dalam proses pembelajaran serta berbagai usaha yang harus dilakukan untuk menumbuhkan daya tarik dan semangat belajar bagi peserta didik.
Perkembangan mental peserta didik di sekolah antara lain, meliputi kemampuan untuk bekerja secara abstraksi menuju konseptual. Implikasinya pada pembelajaran, harus memberikan pengalaman yang bervariasi dengan metode yang efektif dan bervariasi.
Proses pembelajaran juga harus memperhatikan minat dan kemampuan peserta didik. Dalam proses pendidikan Islam, metode mempunyai kedudukan yang sangat penting untuk pencapaian tujuan karena ia menjadi sarana dalam menyampaikan materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum. Tanpa metode, suatu materi pelajaran tidak dapat terproses secara efektif dan efisien dalam kegiatan belajar mengajar menuju tujuan pendidikan yang diharapkan.
Penggunaan metode yang tepat akan sangat menentukan efektifitas danefisiensi pembelajaran. Pembelajaran perlu dilakukan dengan sedikit ceramah dan metode-metode lain yang berpusat pada guru, serta lebih menekankan pada interaksi dengan peserta didik. Penggunaan metode yang bervariasi akan sangat membantu peserta didik dalam mencapai tujuan pembelajaran. Pengalaman belajar di sekolah harus fleksibel dan tidak kaku, serta perlu menekankan pada kreativitas, rasa ingin tahu, bimbingan dan pengarahan ke arah kedewasaan[2].
Metode pendidikan yang tidak efektif akan menjadi penghambat kelancaran proses belajar mengajar sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia. Oleh karena itu, metode yang diterapkan seorang guru akan berdaya dan berhasil guna jika mampu dipergunakan dalam mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Dalam proses pendidikan Islam, metode yang tepat guna apabila mengandung nilai-nilai intrinsik dan ekstrinsik sejalan dengan materi pelajaran dan secara fungsional dapat dipergunakan untuk merealisasikan nilai-nilai ideal yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam. Antara metode, kurikulum, dan tujuan pendidikan Islam mengandung relevansi dan operasional dalam proses pembelajaran.
Oleh karena proses pendidikan mengandung makna internalisasi dan transformasi nilai-nilai Islam ke dalam pribadi manusia didik sebagai upaya untuk membentuk pribadi muslim yang beriman, bertakwa, dan berilmu pengetahuan. Sebagai salah satu komponen operasional ilmu pengetahuan Islam, metode harus bersifat mengarahkan materi pelajaran kepada tujuan pendidikan yang hendak dicapai melalui proses tahap demi tahap, baik dalam kelembagaan formal maupun non formal. Dengan demikian menurut ilmu pendidikan Islam, suatu metode yang baik harus memiliki karakter dan relevansi yang senada dengan tujuan pendidikan Islam. Ada tiga aspek nilai yang terkandung dalam tujuan pendidikan Islam yang hendak direalisasikan melalui metode yang mengandung karakter dan relevansi tersebut.Pertama, membentuk peserta didik menjadi hamba Allah yang mengabdi kepada-Nya semata.Kedua,bernilai edukatif yang mengacu kepada petunjuk Al-Qur'an. Ketiga, berkaitan dengan motivasi dan kedisiplinan sesuai ajaran Al-Qur'an yang disebut pahala dan siksaan[3].
Berdasarkan pengamatan riil di lapangan, proses pembelajaran di sekolah dewasa ini kurang meningkatkan kreativitas siswa, Masih banyak tenaga pendidik yang menggunakan metode konvensional secara monoton dalam kegiatan pembelajaran di kelas, sehingga suasana belajar terkesan kaku dan didominasi oleh sang guru.
Dengan demikian, suasana pembelajaran menjadi tidak kondusif sehingga siswa menjadi pasif.
Pada zaman sekarang ini, yang kita ketahui banyak sekali guru yang telah banyak menyandang sebagai guru berpotensi, maka mereka pun di tuntut untuk menciptakan model pembelajaran yang menyenangkan agar PBM di kelas tidak terlihat monoton. Maka dari situlah akan terlihat hasil belajar siswa, dengan metode pembelajaran yang di pakai seorang guru.
Dari metode yang dipakai maka di sesuaikan oleh karakteristik siswa di kelas, agar tujuan yang di inginkan akan tercapai, dan siswa pun dapat merasakan betapa tidak sulit nya dalam belajar di kelas.
Mata pelajaran siswa pun berbagai  macam  pelajaran salah satu nya adalah pendidikan agama islam  salah satu nya adalah Al-qur’an dan Hadits.
Melihat fenomena yang terjadi di madrasah tersebut, maka peneliti tertarik mengadakan penelitian lebih lanjut untuk mengetahui sejauh mana kemampuan siswa dalam menulis huruf hiaiyah dengan judul,: “EFEKTIFITAS PENGGUNAAN METODE ROLLE PLAYING DALAM MENINGKATKAN PEMAHAMAN MATERI AL-QUR’AN DAN HADITS SISWA DI MA FUTUHIYYAH “    

  1. Identifikasi Masalah
Dilihat  dari latar  belakang masalah maka peneliti mengidentifikasi masalah sebagai berikut :
1.          Penggunaan PENGGUNAAN METODE ROLLE PLAYING.
2.          Pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA AL-FUTUHIYYAH.
3.          Efektifitas penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Akidah-Akhlak di MA FUTUHIYYAH.
  1. Fokus penelitian
Dengan menggunakan Identifikasi Masalah Diatas , sehubung dengan masalah yang terkait dengan Efektifitas penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH“, maka dengan ini peneliti memfokuskan sebagai berikut :
1.          Penggunaan metode Rolle Playing
2.          Pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH

  1. Rumusan Masalah
Dilihat dari Fokus Masalah di atas, Peneliti  merumuskan masalah sebagai berikut :
1.            Bagaimana penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH ?
2.            Bagaimana cara meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH ?
3.            Bagaimana efektifitas penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH ?

  1. Tujuan Penelitian
Berdasarkan Perumusan Masalah diatas, maka penelitian ini bertujuan :
Ø   untuk mengetahui cara Efektifitas penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH
Ø   untuk meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH

  1. Manfaat penelitian
Manfaat penelitian yang di harapkan sebagai berikut :
ü  Secara teoritis
o   Penelitian ini diharapkan dapat menambah ilmu pengetahuan dalam  Pendidikan Agama Islam, khususnya tentang meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH
ü  Secara praktis
Manfaat penelitian yang di harapkan sebagai berikut :
v  Bagi peserta didik MA FUTUHIYYAH
  1. Kompetensi peserta didik dalam mata pelajaran Al-qur’an dan Hadits  dapat dicapai.
  2. Hasil belajar peserta didik di MA FUTUHIYYAH dalam pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH.
  3. Penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH.
v  Bagi Guru MA FUTUHIYYAH
A.    Adanya inovasi dalam penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH
B.     Untuk memudahkan Guru PAI dalam penggunaan metode Rolle Playing dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH.
C.     Untuk mencapai satu tujuan yang di inginkan sesama guru PAI dalam meningkatkan pemahaman materi Al-qur’an dan Hadits di MA FUTUHIYYAH
  1. KAJIAN TEORITIS
Ø  Penegrtian Metode Role Playing
Metode Role Playing adalah suatu cara penguasaan bahan-bahan pelajaran melalui pengembangan imajinasi dan penghayatan siswa. Pengembangan imajinasi dan penghayatan dilakukan siswa dengan memerankannya sebagai tokoh hidup atau benda mati. Permainan ini pada umumnya dilakukan lebih dari satu orang, hal itu bergantung kepada apa yang diperankan.
Ø  Tujuan Pembelajaran Role Playing
Menurut Zuhaerini (1983: 56), model ini digunakan apabila pelajaran dimaksudkan untuk:
a)      Menerangkan suatu peristiwa yang di dalamnya menyangkut orang banyak, dan berdasarkan pertimbangan didaktik lebih baik didramatisasikan daripada diceritakan, karena akan lebih jelas dan dapat dihayati oleh anak;
b)      Melatih anak-anak agar mereka mampu menyelesaikan masalah-masalah sosial-psikologis; dan
c)      Melatih anak-anak agar mereka dapat bergaul dan memberi kemungkinan bagi pemahaman terhadap orang lain beserta masalahnya.
Ø  Langkah-Langkah Model Pembelajaran Role Playing
Langkah-langkah model pembelajaran ini adalah: guru menyiapkan scenario pembelajaran, menunjuk beberapa siswa untuk mempelajari skenario tersebut, pembentukan kelompok siswa, penyampaian kompetensi, menunjuk siswa untuk melakonkan skenario yang telah dipelajarinya, kelompok siswa membahas peran yang dilakukan oleh pelakon, presentasi hasil kelompok, bimbingan penyimpulan dan refleksi.

Ø  Pengertian Dan Ciri-Ciri Pembelajaran Role Playing
Bermain peran pada prinsipnya merupakan pembelajaran untuk ‘menghadirkan’ peran-peran yang ada dalam dunia nyata ke dalam suatu ‘pertunjukan peran’ di dalam kelas/pertemuan, yang kemudian dijadikan sebagai bahan refleksi agar peserta memberikan penilaian terhadap . Misalnya: menilai keunggulan maupun kelemahan masing-masing peran tersebut, dan kemudian memberikan saran/ alternatif pendapat bagi pengembangan peran-peran tersebut. Pembelajaran ini lebih menekankan terhadap masalah yang diangkat dalam ‘pertunjukan’, dan bukan pada kemampuan pemain dalam melakukan permainan peran
Role playing adalah sejenis permainan gerak yang didalamnya ada tujuan, aturan dan sekaligus melibatkan unsur senang (Jill Hadfield, 1986). Dalam role playing murid dikondisikan pada situasi tertentu di luar kelas, meskipun saat itu pembelajaran terjadi di dalam kelas, dengan menggunakan bahasa Inggris. Selain itu, role Playing sering kali dimaksudkan sebagai suatu bentuk aktivitas dimana pembelajar membayangkan dirinya seolah-olah berada di luar kelas dan memainkan peran orang lain (Basri Syamsu, 2000).
Dalam role playing murid diperlakukan sebagai subyek pembelajaran, secara aktif melakukan praktik-praktik berbahasa (bertanya dan menjawab dalam bahasa Inggris) bersama teman-temannya pada situasi tertentu. Belajar efektif dimulai dari lingkungan yang berpusat pada diri murid (Departemen Pendidikan Nasional Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah, 2002). Lebih lanjut prinsip pembelajaran PKn standar kompetensi memahami kebebasan berorganisasi, dan menghargai keputusan bersama, murid akan lebih berhasil jika mereka diberi kesempatan memainkan peran dalam bermusyawarah, melakukan pemungutan suara terbanyak dan bersikap mau menerima kekalahan sehingga dengan melakukan berbagai kegiatan tersebut dan secara aktif berpartisipasi, mereka akan lebih mudah menguasai apa yang mereka pelajari (Boediono, 2001). Jadi, dalam pembelajaran murid harus aktif, karena tanpa adanya aktivitas, maka proses pembelajaran tidak mungkin terjadi.
Sementara itu, sesuai dengan pengalaman penelitian sejenis yang telah dilakukan, manfaat yang dapat diambil dari role playing adalah: Pertama, role playing dapat memberikan semacam hidden practise, dimana murid tanpa sadar menggunakan ungkapan-ungkapan terhadap materi yang telah dan sedang mereka pelajari. Kedua, role playing melibatkan jumlah murid yang cukup banyak, cocok untuk kelas besar. Ketiga, role playing dapat memberikan kepada murid kesenangan karena role playing pada dasarnya adalah permainan. Dengan bermain murid akan merasa senang karena bermain adalah dunia siswa. Masuklah ke dunia siswa, sambil kita antarkan dunia kita (Bobby DePorter, 2000: 12)

Ø  Kelebihan dan kekurangan role playing
ü  Kelebihan Metode Role Playing
Kelebihan metode Role Playing melibatkan seluruh siswa berpartisipasi, mempunyai kesempatan untuk memajukan kemampuannya dalam bekerja sama. Siswa juga dapat belajar menggunakan bahasa dengan baik dan benar. Selain itu, kelebihan metode ini adalah, sebagai berikut:
1.      Siswa bebas mengambil keputusan dan berekspresi secara utuh.
2.      Permainan merupakan penemuan yang mudah dan dapat digunakan dalam situasi dan waktu yang berbeda.
3.      Guru dapat mengevaluasi pengalaman siswa melalui pengamatan pada waktu melakukan permainan.
4.      Dapat berkesan dengan kuat dan tahan lama dalam ingatan siswa. Disamping merupakan pengaman yang menyenangkan yang saling untuk dilupakan
5.      Sangat menarik bagi siswa, sehingga memungkinkan kelas menjadi dinamis dan penuh antusias
6.      Membangkitkan gairah dan semangat optimisme dalam diri siswa serta menumbuhkan rasa kebersamaan dan kesetiakawanan sosial yang tinggi
7.      Dapat menghayati peristiwa yang berlangsung dengan mudah, dan dapat memetik butir-butir hikmah yang terkandung di dalamnya dengan penghayatan siswa sendiri.
8.      Dimungkinkan dapat meningkatkan kemampuan profesional siswa, dan dapat menumbuhkan / membuka kesempatan bagi lapangan kerja.
ü  Kelemahan Metode Role Playing
Hakekatnya sebuah ilmu yang tercipca oleh manusia tidak ada yang sempurna,semua ilmu ada kelebihan dan kekurangan.Jika kita melihat metode Role Playing dalam dalam cakupan cara dalam prooses mengajar dan belajar dalam lingkup pendidikan tentunya selain kelebihan terdapat kelemahan. Kelemahan metode role palying antara lain :
    1. Metode bermain peranan memelrukan waktu yang relatif panjang/banyak.
    2. Memerlukan kreativitas dan daya kreasi yang tinggi dari pihak guru maupun murid.Dan ini tidak semua guru memilikinya.
    3. Kebanyakan siswa yang ditunjuk sebagai pemeran merasa malu untuk memerlukan suatu adegan tertentu.
    4. Apabila pelaksanaan sosiodrama dan bermain pemeran mengalami kegagalan, bukan saja dapat memberi kesan kurang baik, tetapi sekaligus berarti tujuan pengajaran tidak tercapai.
    5. Tidak semua materi pelajaran dapat disajikan melalui metode ini.

  1. METODOLOGI PENELITIAN

v  Metodologi Penelitian
1)      Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di MA FUTUHIYYAH
2)      Waktu penelitian
Waktu penelitian ini dilakukan di MA FUTUHIYYAH selama 3 Bulan terhitung dari bulan November sampai januari  2016
v  Metode penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam menyususn proposal ini yaitu dengan menggunakan metode kualitatif naturalistik,yaitu metode yang menghasilkan data deskriftif.data tersebut di dapatkan dari naskah, wawancara, catatan lapangan ,  alat perekam dan dokumen resmi lainnya.
v  Data dan Sumber Data
1)  Data
Data penelitian ini adalah kualitatif data berwujud kata-kata dan tindakan yang dikumpulkan dalam beberapa cara :
a.       Data berwujud kata-kata dikumpulkan melalui  wawancara.
b.      Data berupa tindakan di peroleh dari perilaku atau sikap sumber data.
c.       Data yang tertulis dilihat dari dokumen-dokumen.
2)  Sumber Data
Dalam pengumpulan sumber data,penulis mengambil keterangan dari beberapa responden yang ada di  MA FUTUHIYYAH di antaranya:
a.       Guru  Pendidikan Agama Islam
b.      Siswa
v  Teknik Pengumpulan Data
Dalam hal ini penulis akan melakukan observasi dengan tiga siswa.
1)      Prosedur Pengumpulan Data
Untuk mengetahui data-data dilapangan maka dipergunakan beberapa teknik dalam pengumpulan data,  yaitu menggunakan interview (wawancara), observasi, dan studi dokumentasi, lebih lanjut akan diuraikan sebagai berikut :
a.       Wawancara
wawancara merupakan salah satu pengumpulan data dengan jalan tanyajawab sepihak yang dikerjakan berdasarkan tujuan penelitian, bisa cara bertatap muka antara pewancara dan pihak yang diwawancara dan meperoleh data berupa kata-kata. Yang di dapatlan dari guru PAI dan siswa di MTS FUTUHIYYAH
b.      Obsevasi
Observasi yaitu pengamatan melalui kegiatan pemusatan perhatian terhadap suatu objek. Pengamatan yang penulis gunakan ini adalah pengamatan adalah secara tersembunyi (covert) dan pengamatan secara terbuka. Hal ini dimaksudkan untuk mendapatkan suatu yang alamiah dan data yang diperoleh valid serta realible. Pengamatan tersebut penulis lakukan pada latar alamiah/paradigma alamiah (Natural Inquiry) dengan melalui berbagai pertimbangan sesuai dengan situasi dan kondisi ; dimana, kapan, dan kepada siapa penga,matan ini ditujukkan.Pengamatan yang dilakukan di kelas, bersama guru PAI , siswa dan peneliti.
c.       Studi Dokumentasi
Data dokumtasi adalah laporan tertulis dari suatu peristiwa (proses kegiatan), yang isinya terdiri dari penjelasan dan pemikiran terhadap peristiwa itu, serta dengan sengaja untuk menyimpan atau meneruskan keterangan mengenai peristiwa tersebut.
Dilihat dari dokementasi metode Rolle Playing dilaksanakan di kelas pada mata pelajaran Akidah-Akhlak.
v  Teknik Analis Data
Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini memakai tiga alur kegiatan yang terjadi secara kebersamaan, yaitu :
a.       Reduksi data yaitu proses pemilihan, pemusatan pada penyederhanaan, pengabsahan, dan transformasi data “kasar” yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan. Reduksi data merupakan suatu bentuk analisis merupakan suatu bentuk analisis yang menggolongkan, mengarahkan, membuang yang tidak perlu, dan mengorganisasikan data dengan cara sedemikian rupa hingga ditarik kesimpulan data dan verivikasi.
b.      Penyajian data yaitu sekumpulan informasi tersusun yang memberikan kemungkinana adanya penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan penyajian meliputi berbagai jenis matrik, jaringan dan bagian semua dirancang guna menggabungkan informasi yang tersusun dalam suatu bentuk yang terpadu dan mudah untuk diraih. Dengan demikian dapat dilihat apa yang terjadi dan dapat menentukan apakah akan ditarik kessimpulan atau terus melakukan analisis data tersebut.
c.       Menarik kesimpulan yaitu merupakan alur ketiga dalam menganalisis data,setelah data di proses dengan mereduksi dan menyajikan data ,kemudian di tarik kesimpulannya.
d.      Pengecekan keabsahan data
Untuk menguji keabsahan data-data penelitian ini,digunakan beberapa cara antara lain:
a)      Kepercayaan (kredibilitas):pemeriksaan datanya dilakukan dengan perpanjangan keikutsretaan sehingga tingkat kepercayaan pemuannya dapat di capai.
b)      Keteralihan yaitu konsep validitas itu menyatakan bahwa suatu penemuan dapat berlaku atau diterapkan pada semua konteks pada populasi yang sama atas dasar penemuan yang di peroleh pada sampel yangb secara representative memilki populasi itu.
c)      Triangulasi yaitu tekhnik pemeriksaan keabsahan data yang memenfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau sebagai pembanding terhadap data itu.tekhnik triangulasi yang paling banyak di gunakan ialah pemeriksan melalui sumber lain.

DAFTAR PUSTAKA

Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam : (Mengurai Benang Kusut DuniaPendidikan), (Jakarta: Raja Grafindo, 2006) Hal 163

E.Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan,      (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, Cet-Ketujuh, 2008) Hal 107
Arifin, Ilmu Pendidikan Islam:Tinjauan Teoretis dan Praktis Berdasarkan   Pendekatan Interdisipliner , (Jakarta: PT Bumi Aksara, Cet-Pertama, 2003) Hal 144


[1] Muhaimin, Nuansa Baru Pendidikan Islam : (Mengurai Benang Kusut DuniaPendidikan), (Jakarta: Raja Grafindo, 2006) Hal 163

[2] E.Mulyasa, Menjadi Guru Profesional Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan Menyenangkan, (Bandung: PT Remaja Rosda Karya, Cet-Ketujuh, 2008) Hal 107
[3] Arifin, Ilmu Pendidikan Islam:Tinjauan Teoretis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner , (Jakarta: PT Bumi Aksara, Cet-Pertama, 2003) Hal 144

Tidak ada komentar:

Posting Komentar